Pemerintah terus berusaha membantu upaya puluhan ribu
WNI mau pun TKI yang ingin mendapatkan amnesti dari Pemerintah Kerajaan
Arab Saudi di Konsulat Jenderal RI di Jeddah. Namun, jika nama dan
tanggal masuk yang digunakan TKI berbeda maka dikhawatirkan akan
tertahan di Keimigrasian Arab Saudi.
Demikian dikatakan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Mohamad Jumhur Hidayat saat berkunjung
ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/6/2013).
Ia menjelaskan ada sedikit persoalan bagi WNI atau TKI meski sudah
mendapat surat keterangan sebagai WNI/TKI dan Surat Pengantar Laksana
Paspor (SPLP) dari Perwakilan RI di Arab Saudi. Mereka tidak bisa
langsung bisa dipulangkan karena tertahan di imigrasi Arab Saudi
lantaran tidak ada data atau telah terjadi perubahan nama.
"Umumnya mereka sudah lama sekali tinggal di Arab Saudi. Dan kerap
ditanya petugas kapan masuknya ke Arab Saudi. Kalau data masuknya
berbeda dengan data saat ingin keluar maka mereka tidak bisa serta merta
bisa dipulangkan," jelas Jumhur menanggapi pertanyaan Wakil Ketua
Pengasuh Pesantren Tebuireng Gus Muhammad Irfan Yusuf.
Karena itu, Ia menambahkan, pemerintah RI sedang membicarakan lanjut
soal itu dengan pemerintah Arab Saudi. Ia menegaskan banyak WNI/TKI
datang ke Arab Saudi melalui jalur tidak resmi sehingga mempersulit
mereka bila terjadi kasus-kasus seperti pemberian amnesti tersebut.
Menjawab pertanyaan soal pungutan atas TKI setibanya di Tanah Air,
Jumhur menegaskan telah menghapuskan pungutan sebesar Rp 25 ribu setiap
TKI sejak pertama kali menjabat Kepala BNP2TKI.
"Jadi sudah sejak enam tahun lalu tidak ada lagi pungutan itu," imbuh Jumhur.
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus menerus memperbaiki penanganan
penempatan dan perlindungan TKI secara optimal. Ia juga mewacanakan
bahwa perempuan tidak perlu bekerja ke luar negeri bila hanya bekerja
pada sektor informal atau penata laksana rumah tangga.
"Lebih baik bersama keluarga daripada menjadi penata laksana rumah
tangga di luar negeri yang rentan perlindungannya. India saja tidak ada
tenaga kerja perempuannya di luar negeri," tutur Jumhur.
Ia menegaskan pemerintah juga masih memberlakukan moratorium atau
penghentian penempatan TKI sektor informal atau penata laksana rumah
tangga ke 5 negara sekaligus yakni Malaysia, Arab Saudi, Kuwait,
Yordania, dan Suriah. (Adi) sumber http://id.berita.yahoo.com
Senin, 01 Juli 2013
"Bila Jadi PRT, Perempuan Tak Perlu Jadi TKI"
Jakarta - Tingginya kebutuhan untuk hidup di Indonesia mengakibatkan sejumlah orang tua, baik laki-laki maupun perempuan saling mencari pekerjaan demi menghidupi keluarganya. Salahsatu pekerjaan yang cukup banyak diminati yakni menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk ditempatkan di luar negeri, tak terkecuali menjadi seorang penata laksana rumah tangga atau pembantu.
Padahal menjadi seorang penata laksana rumah tangga di negeri orang kerap mengakibatkan permasalahan terhadap orang yang bersangkutan. Bahkan tak jarang, TKI terutama perempuan Indonesia yang mendapatkan perlakuan tidak wajar dari sang majikan.
Terkait hal ini, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa semestinya perempuan tidak perlu bekerja ke luar negeri bila hanya bekerja pada sektor informal atau penata laksana rumah tangga. Karena itu pemerintah terus menerus memperbaiki penanganan penempatan dan perlindungan TKI secara optimal.
"Lebih baik bersama keluarga daripada menjadi penata laksana rumah tangga di luar negeri yang rentan perlindungannya. India saja tidak ada tenaga kerja perempuannya di luar negeri," ujarnya.
Ditambah lagi, pemerintah masih memberlakukan moratorium atau penghentian penempatan TKI sektor informal atau penata laksana rumah tangga ke lima negara sekaligus yakni Malaysia, Arab Saudi, Kuwait, Yordania, dan Suriah. sumber INILAH.COM
Sebanyak 57 Imigran Gelap Ditangkap di Tasikmalaya
Sebanyak 39 imigran berasal dari Iran, 6 orang dari Irak, 1 warga Suriah, dan 11 warga Sudan. Mereka ditangkap ketika berjalan kaki di pesisir pantai selatan yang merupakan perbatasan Kabupaten Tasikmalaya-Kabupaten Garut.
"Ditangkap saat sedang jalan kaki di Jembatan Cikaengan, perbatasan Cipatujah (Tasik) dengan Sancang (Garut)," kata Kapolres Tasikmalaya, Ajun Komisaris Besar Widjanarko, Minggu.
Petugas, kata dia, mengevakuasi para imigran secara bertahap. Evakuasi dilakukan mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 11.00. Mereka lalu dibawa ke Mapolres Tasikmalaya.
Para imigran itu, diduga akan menyeberang ke Pulau Christmast, Australia untuk mencari suaka. Mereka menyeberang melalui pantai Sancang, Garut.
"Sampai sekarang, kami masih menyelidiki siapa yang membawa dan bagaimana mereka bisa masuk ke wilayah perbatasan Tasik-Garut," kata Widjaranrko.
Sebelumnya, Sabtu 22 Juni 2013, sebanyak 30 imigran gelap asal Pakistan, Afganistan dan Iran ditangkap polisi di daerah Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka ditangkap karena hendak menyeberang ke Pulau Christmas, Australia.
CANDRA NUGRAHA TEMPO.CO
Minggu, 30 Juni 2013
Terjangkit malaria, TKI asal Lombok butuh bantuan darah
| TKI. Merdeka.com/Arie Basuki |
Pulang bekerja dari Malaysia, Rinalam (50) langsung dilarikan ke rumah sakit karena mengidap penyakit malaria. Tenaga kerja Indonesia (TKI) asal lombok ini membutuhkan tujuh kantong darah golongan B akibat kekurangan darah.
Rinalam, warga asal Desa Loang Serak, Kecamatan Lingsar, Lombok, menjalani perawatan di kamar kelas III ruang Teratai RSUD Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau sejak Jumat (21/6) kemarin. Dia kembali ke Tanah Air setelah dideportasi bersama ratusan TKI lainnya dari Pasir Gudang Johor ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang.
"Kondisi pasien sekarang sangat lemah dan sesak karena kekurangan darah golongan B akibat penyakit malaria vivax yang dideritanya," kata perawat RSUD Tanjungpinang, Elyn, Sabtu (29/6), seperti dikutip dari Antara.
Menurut Elyn, kondisi kesehatannya sudah sangat lemah akibat penyakit malaria yang diidapnya. Sejak menjalani perawatan, korban baru menerima satu kantong darah, sementara masih menunggu tujuh kantong lainnya dari Palang Merah Indonesia (PMI) Tanjungpinang, lombok.
"Satu kantong darah yang sudah masuk tubuh pasien itu belum mampu meningkatkan hemoglobin (Hb) darahnya yang masih tetap pada angka 4,7 dari 11 dalam kondisi normal," ujarnya.
Sementara, stok darah golongan B yang dimiliki PMI setempat sudah kosong. Di ruang rawat inap, Rinalam hanya tidur sendirian tanpa ditemani keluarga atau Satgas TKI Bermasalah.sumber
TKI Asal Banyuwangi Meninggal Tak Wajar di Arab Saudi
BANYUWANGI - Seorang TKI asal Jalan Musi, RT 01/02, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dilaporkan meninggal dunia di Arab Saudi secara tidak wajar.
Keluarga menerima informasi meninggalnya TKI bernama Hadi Wicaksono Katma (49) melalui surat dari Kementerian Luar Negeri RI. Di situ disebutkan bahwa Hadi meninggal dunia pada 9 April 2013, namun keluarga baru menerima kabar Sabtu, 29 Juni 2013.
Dalam surat tertanggal 21 Juni 2013 tersebut juga tercantum permintaan mengurus hak khusus (diyat) serta identifikasi kemungkinan kematian disebabkan hal tidak wajar atau penganiayaan.
Susianti, ibu Hadi, Minggu (30/6/2013), menuturkan, anaknya bekerja sebagai petugas dekorasi taman. Hadi bekerja di Arab Saudi 10 tahun lalu atau setelah bercerai dengan istrinya.
Dia mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengusut kasus ini serta segera memulangkan jenazah Hadi untuk dimakamkan.
Dia juga menyayangkan lambannya penyampaian informasi meninggalnya pria yang sudah memiliki seorang anak tersebut.
Selama bekerja di Arab Saudi, Hadi baru sekali pulang ke Indonesia, yakni tiga tahun lalu. Sementara komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi pada Mei 2012. sumber
Sabtu, 29 Juni 2013
TKI Dibunuh di Malaysia
Calon TKI Dihimbau Mendaftar Melalui Lembaga Resmi
| Ilustrasi |
Negara Taiwan Banyak Diminati TKW Situbondo
Jumat, 28 Juni 2013
TKI di Hongkong Rentan Kanker Serviks
HONGKONG –
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong rentan terkena penyakit dan
gangguan kesehatan. Hal tersebut dikarenakan tingkat pengetahuan yang
masih kurang dan minimnya informasi serta pemeriksaan kesehatan rutin
yang diperlukan untuk menjaga kesehatan. Salah satu penyakit yang sering mengenai perempuan adalah kanker serviks dan kanker payudara.
Hal itu dikatakan oleh Manager Pelayanan
Medis LKC Dompet Dhuafa dr.Yeni Purnamasari. Dokter Yeni mengungkapkan,
TKI di Hongkong berjumlah hampir 130.000 jiwa. Mereka bekerja di sektor
domestik dan informal. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan usia
produktif, berkisar 20-45 tahun.
Sebagai upaya promosi kesehatan dan
pendidikan kesehatan bagi para TKI di Hongkong mencegah penyakit kanker
serviks, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa bekerjasama
dengan Layanan Kesehatan Terpadu (LKT) Dompet Dhuafa Hongkong menggelar
Seminar Kesehatan dan Deteksi Dini Kanker Serviks Serta Kanker
Payudara.
Mengisi seminar kesehatan tersebut, LKC
Dompet Dhuafa mengutus 1 orang dokter dan 1 bidan sebagai nara sumber.
Seminar kesehatan yang berlangsung di Mesjid Ammar Wan Chai, Hongkong,
tanggal 23 Juni 2013 dihadiri lebih 400 peserta dari para TKI yang
bekerja di Hongkong.
“Seminar ini diperlukan agar para TKI di
Hongkong mendapat pengetahuan kesehatan dan terdeteksi sejak awal
apabila menderita penyakit, khususnya kanker serviks dan kanker
payudara,” kata dr. Yeni Purnamasari, dokter yang
mewakili LKC Dompet Dhuafa, sebagai pembicara dalam seminar, membahas
tema “Apa dan Bagaimana Kanker Serviks dan Kanker Payudara, Serta Upaya
Deteksi Dininya”.
Berdasarkan data yang didapatkan, kanker
payudara merupakan kanker kedua terbanyak sesudah kanker serviks pada
wanita di Indonesia. Selain itu menurut data GLOBOCAN, IARC (2002),
insidens kanker payudara di Indonesia adalah sebesar 26 per 100.000
penduduk wanita manakala mortaliti mencapai 11,3 per 100.000 penduduk
wanita.
“Kanker serviks dan payudara merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang penting, karena mortalitas dan
morbiditasnya yang tinggi,” ungkap Dokter Yeni.
Selain topik tersebut, dalam seminar juga
membahas materi terkait Pelatihan Kegawatan Pada Anak dan Dewasa. Agar
para TKI, kata dokter Yeni, senantiasa sigap menghadapi kondisi
kesehatan yang tidak diinginkan yang bisa mengancam nyawa.
Selain itu, para peserta juga mendapatkan
pelatihan Periksa Payudara Sendiri (SADARI) yang dipandu oleh tenaga
bidan dari LKC Dompet Dhuafa Rohayani, AM.Keb. Usai seminar dan
pelatihan, sebanyak 60 peserta mendapatkan pemeriksaan IVA (Inspeksi
Visual Asam asetat) secara gratis.-MJundi sumber kompasiana
TKI Asal Sulsel Meninggal di Malaysia
ENREKANG -- Tenaga Kerja Indonesia
(TKI) asal Dusun Terowali, Desa Tongkonan Basse, Kecamatan Masalle,
Enrekang, dikabarkan meninggal di Serawak Malaysia.
TKI bernama Aris Sina ini, diketahui sudah meninggal sejak 13 Juni lalu. Hanya saja, kabarnya baru sampai di Enrekang Jumat (28/6)
Kabar tersebut diterima Kapolres Enrekang, AKPB Ika Waskita dari salah seorang staf polisi, AKBP Audi yang bertugas pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Malaysia.
"Saya dapat telepon langsung dari teman yang bertugas di sana. Minta dijembatani untuk koordinasi dengan keluarga almarhum. Informasi sementara, TKI tersebut meninggal karena serangan jantung," jelas Ika seperti yang dilansir FAJAR (JPNN Group), Jumat (28/6). (iad) sumber
TKI bernama Aris Sina ini, diketahui sudah meninggal sejak 13 Juni lalu. Hanya saja, kabarnya baru sampai di Enrekang Jumat (28/6)
Kabar tersebut diterima Kapolres Enrekang, AKPB Ika Waskita dari salah seorang staf polisi, AKBP Audi yang bertugas pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Malaysia.
"Saya dapat telepon langsung dari teman yang bertugas di sana. Minta dijembatani untuk koordinasi dengan keluarga almarhum. Informasi sementara, TKI tersebut meninggal karena serangan jantung," jelas Ika seperti yang dilansir FAJAR (JPNN Group), Jumat (28/6). (iad) sumber
Derita TKI di Malaysia
| Bedeng yang ditinggalkan paraTKI di Malaysia |
Tidak banyak yang mengetahui pada 7 Mei 2013, terjadi kebakaran yang melumatkan bedeng-bedeng tempat tinggal para buruh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja pada proyek kondominium Aman Height Condominium, Seri Kembangan, Selangor, pinggiran Kuala Lumpur, Malaysia. Akibat kebakaran ini, semua harta TKI yang berjumlah 200 orang ludes terbakar, termasuk dokumen-dokumen pribadi dan izin kerja. Diantara 200 orang tersebut, 40 orang di antaranya adalah wanita yang juga bekerja sebagai buruh kasar, serta 6 orang anak-anak. Beruntung kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa. Pada saat TKI kehilangan segalanya, majikan TKI tersebut sama sekali tak peduli dan melakukan bantuan. Majikan hanya tahu TKI harus bekerja dan bekerja menyelesaikan proyek kondominium. Untungnya masyarakat Indonesia di Kuala Lumpur sangat tanggap dan segera memberikan bantuan, baik berupa pangan, sandang, dan kebutuhan lainnya. Pihak KBRI Kuala Lumpur juga cukup sigap dalam memberi bantuan dan pengurusan dokumen-dokumen yang musnah terbakar. Saat ini TKI sudah bekerja kembali dengan normal. Namun mereka sekarang tinggal di bedeng-bedeng dengan sanitasi yang memprihatinkan. Ketika team dari lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengunjungi tempat tinggal para TKI, terlihat para TKI tinggal di bedeng-bedeng yang berada di atas genangan air. Untuk masuk ke bedeng tersebut, kami harus berpijak pada papan-papan yang berada di atas air dengan hati-hati, bila tidak ingin tercebur ke dalam genangan air. Team ACT juga merasakan banyak sekali nyamuk dan bau menyengat. Tentu saja kondisi ini menimbulkan rawan penyakit bagi para penghuninya. Pengusaha yang memekerjakan TKI kita ini tidak memperhatikan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja...Mereka bekerja tanpa safety equipment dan tempat tinggal yang buruk. Tercatat di tahun 2012, TKI yang meninggal di Malaysia dan dikebumikan di tanah air adalah sekitar 700 orang, belum lagi yang dimakamkan di Malaysia. Penyebab kematian kebanyakan adalah TBC, meningitis, dan leptospirosis. Itu semua karena sanitasi tempat tinggal yang buruk. Diam yang jelas bukan solusi. Dibantu oleh sahabat-sahabat warga Malaysia yang simpati, kasus ini akan di urus di otoritas pemerintah. Seharusnyalah pengusaha Malaysia yang memekerjakan TKI kita harus memperlakukan TKI selayaknya manusia yang bermartabat. Banyak pengusaha Malaysia yang baik dalam memperlakukan para pekerja Indonesia. Namun untuk pengusaha yang tidak benar, selayaknya juga di urus. Kita ingin TKI diperlakukan dengan lebih baik. Wallahualam sumber
Bursa Kerja Banten Sediakan 12.226 Lowongan
Serang (AntaraBanten) - Bursa kerja yang diselenggarakan Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten menyediakan 12.226 lowongan
kerja dari 56 perusahaan.
Ribuan para pencari kerja menyerbu arena lokasi pameran bursa kerja Provinsi Banten 2013 yang dibuka Gubernur Banten di Alun-alun Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Serang, Kamis.
Sebelum para pelamar mencari lowongan pekerjaan sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikannya. Para pencari kerja tersebut tersebut terlebih dahulu mengisi formulir pendaftaran sebagai pelamar kerja sebagai syarat masuk ke arena bursa kerja.
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan, pelaksanaan bursa kerja merupaka salah satu bentuk komitmen Pemprov Banten dalam memfasilitasi pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
"Kami senantiasa bekerjasama dan komunikasi dengan pihak perusahaan di Banten, dalam hal perekrutan tenaga kerja. Ini bentuk upaya pemprov dalam menekan angka pengangguran," kata Ratu Atut.
Menurutnya, jumlah pengangguran di Banten terus mengalami penurunan. Data 2013 menunjukkan jumlah pengangguran di Banten mencapai 552.895 jiwa.
Selain membuka bursa kerja, kata dia, dalam mengatasi angka pengangguran tersebut, pihaknya mengajak Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) untuk mengoptimalkan pemanfaatan BLK serta meningkatkan kualitas calon tenaga kerja.
"Tidak hanya calon tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri, tetapi juga mengoptimalkan kebutuhan tenaga kerja untuk perusahaan di Banten," katanya.
Kepala Disnakertrans Banten Erik Syehabudin mengatakan, pameran bursa kerja diikuti 10 instansi ketenagakerjaan dan 56 perusahaan dengan menyediakan 12.226 lowongan kerja.
Ia mengatakan, melalui bursa kerja perusahaan diharapkan memperoleh tenaga kerja yang profesional dan siap pakai. Sementara bagi pencari kerja, bisa memperoleh pekerjaan yang sesuai minat, bakat, skill, dan kompetensi.
"Melalui hob fair ini diharapkan terjalin komunikasi antara perusahaan dan pencari kerja, sehingga tercipta hubungan emosional yang nyaman dan produktivitas kerja dapat terwujud," kata Erik.
Direktur Penempatan Pasar Tenaga Kerja Budi Hartawan dalam sambutan tertulisnya menyampaikan, salah satu yang masih menjadi permasalahan tenaga kerja yakni kualitas tenaga kerja. Sebab tenaga kerja terbesar masih didominasi lulusan SD-SMA yakni 54,6 juta orang, D III 3,2 juta, dan S1 8 juta.
Ribuan para pencari kerja menyerbu arena lokasi pameran bursa kerja Provinsi Banten 2013 yang dibuka Gubernur Banten di Alun-alun Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Serang, Kamis.
Sebelum para pelamar mencari lowongan pekerjaan sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikannya. Para pencari kerja tersebut tersebut terlebih dahulu mengisi formulir pendaftaran sebagai pelamar kerja sebagai syarat masuk ke arena bursa kerja.
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan, pelaksanaan bursa kerja merupaka salah satu bentuk komitmen Pemprov Banten dalam memfasilitasi pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
"Kami senantiasa bekerjasama dan komunikasi dengan pihak perusahaan di Banten, dalam hal perekrutan tenaga kerja. Ini bentuk upaya pemprov dalam menekan angka pengangguran," kata Ratu Atut.
Menurutnya, jumlah pengangguran di Banten terus mengalami penurunan. Data 2013 menunjukkan jumlah pengangguran di Banten mencapai 552.895 jiwa.
Selain membuka bursa kerja, kata dia, dalam mengatasi angka pengangguran tersebut, pihaknya mengajak Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) untuk mengoptimalkan pemanfaatan BLK serta meningkatkan kualitas calon tenaga kerja.
"Tidak hanya calon tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri, tetapi juga mengoptimalkan kebutuhan tenaga kerja untuk perusahaan di Banten," katanya.
Kepala Disnakertrans Banten Erik Syehabudin mengatakan, pameran bursa kerja diikuti 10 instansi ketenagakerjaan dan 56 perusahaan dengan menyediakan 12.226 lowongan kerja.
Ia mengatakan, melalui bursa kerja perusahaan diharapkan memperoleh tenaga kerja yang profesional dan siap pakai. Sementara bagi pencari kerja, bisa memperoleh pekerjaan yang sesuai minat, bakat, skill, dan kompetensi.
"Melalui hob fair ini diharapkan terjalin komunikasi antara perusahaan dan pencari kerja, sehingga tercipta hubungan emosional yang nyaman dan produktivitas kerja dapat terwujud," kata Erik.
Direktur Penempatan Pasar Tenaga Kerja Budi Hartawan dalam sambutan tertulisnya menyampaikan, salah satu yang masih menjadi permasalahan tenaga kerja yakni kualitas tenaga kerja. Sebab tenaga kerja terbesar masih didominasi lulusan SD-SMA yakni 54,6 juta orang, D III 3,2 juta, dan S1 8 juta.
Suami TKW hongkong Kubur Istri di Dalam Kakus Gara-gara Cemburu
Laporan Wartawan Surya, Yuli
TRIBUNNEWS.COM
Kamis, 27 Juni 2013
Dengar Curhatan TKI, Fitri Carlina Makin Bersyukur
Jakarta : Fitri Carlina membawa pulang oleh-oleh berharga sepulang dari
Thailand. Tiga hari berada di negeri Gajah Putih itu, Fitri menyempatkan
diri curhat dengan para Tenaga Kerja Indonesia.
Dari obrolan itu, Fitri bersyukur diberi hidup yang lebih layak. "Aku lebih banyak ngobrol sama TKI di sana. Aku semakin menghargai hidup ini setelah mendengar cerita dari mereka," tutur Fitri di Kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (26/6/2013).
Keberadaan Fitri di Thailand dalam rangka meluncurkan album barunya yang berjudul Anti Galau. Album itu didedikasikan bagi para buruh migran. Fitri mengamati pola kerja para TKI.
"Di sini mereka cari uang. Nanti kalau pulang, mereka buka yayasan atau ada juga yang bikin panti asuhan. Malah ada lho yang jadi calon legislatif," kata Fitri. (Fei)Liputan6
Dari obrolan itu, Fitri bersyukur diberi hidup yang lebih layak. "Aku lebih banyak ngobrol sama TKI di sana. Aku semakin menghargai hidup ini setelah mendengar cerita dari mereka," tutur Fitri di Kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (26/6/2013).
Keberadaan Fitri di Thailand dalam rangka meluncurkan album barunya yang berjudul Anti Galau. Album itu didedikasikan bagi para buruh migran. Fitri mengamati pola kerja para TKI.
"Di sini mereka cari uang. Nanti kalau pulang, mereka buka yayasan atau ada juga yang bikin panti asuhan. Malah ada lho yang jadi calon legislatif," kata Fitri. (Fei)Liputan6
TKI Merupakan Persoalan Bangsa
Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan bahwa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi merupakan persoalan bangsa, menyangkut kemanusiaan dan martabat bangsa, sehingga harus segera ada peran institusi terkait.
“Dalam konteks ini, kita berpikir secara kemanusiaan dan martabat bangsa. Rakyat kita disana (Arab Saudi) kan menyangkut harkat dan martabat bangsa, apapun kita lakukan. Bagaimana ada ruang untuk menolong warga kita di sana yang tidak memiliki dokumen lengkap. Untuk kemanusiaan dan martabat bangsa, mari kita bekerja bersama untuk membantu mereka,” tegas Marzuki ketika melakukan rapat gabungan dengan pemerintah di Gedung Nusantara III, Rabu (26/6).
Dalam rapat membahas nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kesulitan memperpanjang dokumen izin tinggal dan perjalanan di Arab Saudi ini, hadir Wakil Ketua Komisi IX Soepriyatno, dan Anggota Komisi I Muhammad Najib.
Sedangkan dari pemerintah hadir Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana. Dari pihak swasta Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Ayub Basalamah.
Marzuki menyatakan jumlah TKI yang tidak memiliki dokumen ini cukup besar, sekitar 130 ribu TKI. Banyaknya jumlah TKI ini menyebabkan masalah di Imigrasi Arab Saudi. Untuk pengurusan dokumen, hanya diberikan pelayanan pada hari Rabu saja, dan jumlahnya terbatas, hanya 200 orang per hari.
“ Waktu pemutihan akan berakhir 3 Juli 2013, bagaimana 100 ribu lebih TKI ini dapat terdokumentasikan? Bisa 5 tahun tidak selesai. Saya minta institusi terkait agar tenggat tanggal waktu itu diperpanjang. Selain itu, pelayanan juga bisa ditingkatkan, mungkin dengan cara menambah loket, pelayanan lebih cepat lagi, atau ada upaya lain dari Pemerintah Arab Saudi untuk mempercepat hal ini,” ujar politisi Demokrat ini.
Terkait dengan kegiatan mafia atau praktik percaloan di Arab Saudi, Marzuki menyatakan bahwa terlalu banyak mafia atau calo di sana yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan sesuatu. Ia menilai mungkin ada orang Indonesia yang menjadi mafia, dengan cara bekerjasama dengan orang lokal. Ia menegaskan bahwa hal ini merupakan persoalan yang mesti segera diselesaikan, namun tetap mengutamakan kemanusiaan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi IX Soepriyatno. Ia menyatakan bahwa pihaknya menemukan banyak mafia atau calo TKI di Arab Saudi. Harus segera ada penertiban untuk menyelamatkan martabat bangsa.
“Kita harus melakukan pemberantasan terhadap mafia-mafia di sana. Masalah TKI ini bukan hanya jumlahnya, tetapi banyaknya mafia dan praktek-praktek percaloan di sana yang luar biasa. Jika kita mau lakukan demi martabat bangsa, perlu ada penertiban. Ada aturan, ada kebijakan. Jadi jangan terus-terusan aturan dilanggar,” tegas Soepriyatno.
Terkait dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), Soepriyatno menilai perlu adanya penertiban juga. Bila diperlukan, diberikan sanksi kepada PJTKI yang “nakal”.
“Jika PJTKI ini memang bekerja dengan baik, ya harus kita support. Tapi jika malah membuat masalah, ya harus diumumkan oleh Kemenakertrans. Saya melihat tidak ada sanksi yang tegas untuk PJTKInya, Kesempatan ini dapat dilakukan untuk penertiban,” tambah Soepriyatno.
Ia mengingatkan kepada pemerintah untuk dapat memberikan lapangan pekerjaan di dalam negeri untuk warga Indonesia. Berdasarkan data dari Kemenlu, 28% TKI dari tahun 2005 sampai tahun 2012, overstayer di Arab Saudi adalah tujuan awalnya untuk umroh atau naik haji, namun tidak kembali ke Indonesia.
“Jadi tugas pemerintah itu memberikan pekerjaan kepada warganya di dalam negeri, bukan di luar negeri. Kebijakan pemutihan ini, adalah permintaan dari Pemerintah Arab Saudi agar pekerja Indonesia tetap berada di sana. Mereka membutuhkan kita. Kita ini Merah Putih, punya harkat dan martabat yang harus kita jaga, sehingga ini menjadi persoalan bersama, harus diselesaikan bersama,” ujar Soepriyatno. (sf)
sumber >> dpr.go.id
“Dalam konteks ini, kita berpikir secara kemanusiaan dan martabat bangsa. Rakyat kita disana (Arab Saudi) kan menyangkut harkat dan martabat bangsa, apapun kita lakukan. Bagaimana ada ruang untuk menolong warga kita di sana yang tidak memiliki dokumen lengkap. Untuk kemanusiaan dan martabat bangsa, mari kita bekerja bersama untuk membantu mereka,” tegas Marzuki ketika melakukan rapat gabungan dengan pemerintah di Gedung Nusantara III, Rabu (26/6).
Dalam rapat membahas nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kesulitan memperpanjang dokumen izin tinggal dan perjalanan di Arab Saudi ini, hadir Wakil Ketua Komisi IX Soepriyatno, dan Anggota Komisi I Muhammad Najib.
Sedangkan dari pemerintah hadir Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana. Dari pihak swasta Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Ayub Basalamah.
Marzuki menyatakan jumlah TKI yang tidak memiliki dokumen ini cukup besar, sekitar 130 ribu TKI. Banyaknya jumlah TKI ini menyebabkan masalah di Imigrasi Arab Saudi. Untuk pengurusan dokumen, hanya diberikan pelayanan pada hari Rabu saja, dan jumlahnya terbatas, hanya 200 orang per hari.
“ Waktu pemutihan akan berakhir 3 Juli 2013, bagaimana 100 ribu lebih TKI ini dapat terdokumentasikan? Bisa 5 tahun tidak selesai. Saya minta institusi terkait agar tenggat tanggal waktu itu diperpanjang. Selain itu, pelayanan juga bisa ditingkatkan, mungkin dengan cara menambah loket, pelayanan lebih cepat lagi, atau ada upaya lain dari Pemerintah Arab Saudi untuk mempercepat hal ini,” ujar politisi Demokrat ini.
Terkait dengan kegiatan mafia atau praktik percaloan di Arab Saudi, Marzuki menyatakan bahwa terlalu banyak mafia atau calo di sana yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan sesuatu. Ia menilai mungkin ada orang Indonesia yang menjadi mafia, dengan cara bekerjasama dengan orang lokal. Ia menegaskan bahwa hal ini merupakan persoalan yang mesti segera diselesaikan, namun tetap mengutamakan kemanusiaan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi IX Soepriyatno. Ia menyatakan bahwa pihaknya menemukan banyak mafia atau calo TKI di Arab Saudi. Harus segera ada penertiban untuk menyelamatkan martabat bangsa.
“Kita harus melakukan pemberantasan terhadap mafia-mafia di sana. Masalah TKI ini bukan hanya jumlahnya, tetapi banyaknya mafia dan praktek-praktek percaloan di sana yang luar biasa. Jika kita mau lakukan demi martabat bangsa, perlu ada penertiban. Ada aturan, ada kebijakan. Jadi jangan terus-terusan aturan dilanggar,” tegas Soepriyatno.
Terkait dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), Soepriyatno menilai perlu adanya penertiban juga. Bila diperlukan, diberikan sanksi kepada PJTKI yang “nakal”.
“Jika PJTKI ini memang bekerja dengan baik, ya harus kita support. Tapi jika malah membuat masalah, ya harus diumumkan oleh Kemenakertrans. Saya melihat tidak ada sanksi yang tegas untuk PJTKInya, Kesempatan ini dapat dilakukan untuk penertiban,” tambah Soepriyatno.
Ia mengingatkan kepada pemerintah untuk dapat memberikan lapangan pekerjaan di dalam negeri untuk warga Indonesia. Berdasarkan data dari Kemenlu, 28% TKI dari tahun 2005 sampai tahun 2012, overstayer di Arab Saudi adalah tujuan awalnya untuk umroh atau naik haji, namun tidak kembali ke Indonesia.
“Jadi tugas pemerintah itu memberikan pekerjaan kepada warganya di dalam negeri, bukan di luar negeri. Kebijakan pemutihan ini, adalah permintaan dari Pemerintah Arab Saudi agar pekerja Indonesia tetap berada di sana. Mereka membutuhkan kita. Kita ini Merah Putih, punya harkat dan martabat yang harus kita jaga, sehingga ini menjadi persoalan bersama, harus diselesaikan bersama,” ujar Soepriyatno. (sf)
sumber >> dpr.go.id
Tenaga Kerja yang Miliki Keahlian Khusus Jangan Hanya Dikontrak
Pengiriman TKI PLRT Dihentikan, Warga Hongkong Ketar-ketir
Kepulangan TKI Melalui Balai Selapajang Menurun
Rabu, 26 Juni 2013
Pembunuhan TKI Banyuwangi Terbit di Media Arab
BANYUWANGI - Berita tewasnya Endang Sulistiowati, 43, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Dusun Krajan, Desa Kaligung, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, karena dibunuh ternyata sudah beredar luas di Arab Saudi. Tragedi memilukan tersebut diterbitkan di media cetak ternama di negara tersebut.
Insiden berdarah yang dimuat di koran itu diterima keluarga melalui BlackBerry Massager (BBM). Dalam halaman koran tersebut, tampak jasad almarhumah tertutup kain.
Selain itu, tim medis dan pelaku pembunuhan diperlihatkan. Hanya, wajah pelaku tidak ditampilkan.
Riska Nurvianti, 19, putri almarhumah, menyatakan bahwa surat kabar itu menjadi bukti bahwa ibunya benar-benar dibunuh. Bahkan, dia meyakini bahwa pelaku berhasil ditangkap petugas.
''Yang membunuh ibu saya, katanya, orang Turki,'' ujarnya. sumber:
Cegah Warga Jadi TKI, Buruh Migran Dilatih Kewirausahaan
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Paguyuban Tenaga Kerja Indonesia (TKI) 'Maju Lestari' Desa Jangkaran, Kulonprogo akan menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan bagi buruh migran yang berlangsung 26-27 Juni, di Hotel Pandan Sari Glagah Temon Kulonprogo. "Paguyuban yang baru didirikan 17 Juni ini menjadi wadah buruh migran atau TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang pernah bekerja di luar negeri dan warga masyarakat yang peduli dengan buruh migran di Desa Jangkaran," kata Pembina Paguyuban TKI 'Maju Lestari', Dwi Purnami kepada Republika, Selasa (25/6). Pelatihan kewirausahaan akan diikuti 50 peserta (25 dari penjaringan di Jangkaran dan 25 dari penjaringan di Kokap). Pelatihan akan diberikan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI). "Pelatihan yang kami usulkan dalam rapat paguyuban adalah olahan makanan bersumber dari produk pertanian dan perikanan lokal yaitu waluh (labu) dan udang," kata Dwi. Dengan Pelatihan tersebut diharapkan buruh migran mempunyai ketrampilan dan manajemen usaha yang baik, untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Sehingga akan mencegah mereka menjadi buruh migran ke luar negeri lagi atau memberikan alternatif pekerjaan dan usaha di dalam negeri. Agenda dari pelatihan tersebut adalah: - Rabu (26/6) tentang Kebijakan Pemda Kulonprogo dalam Kebijakan pemda Kulon Progo dalam pemberdayaan TKI Purna yang disampaikan Dinsosnakertrans Kulon Progo Peluang Usaha Kuliner dan Pengurusan Perizinan disampaikan Disperindag dan ESDM Kulon Progo; Izin Pendirian Koperasi yang disampaikan Dinas Koperasi dan UMKM Kulon Progo; AMT (Achievement Motivation Training) Komunitas Hijau. - Kamis (27/6) tentang Program Fasilitasi dan Rehabilitasi Pemberdayaan TKI Purna Seksi si Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Yogyakarta; Succes Story (Pengalaman kesuksesan TKI Purna Triyono; Praktik pembuatan kue dan masakan oleh Balai Latihan Kerja Yogyakarta. Reporter : Neni Ridarineni Redaktur : Djibril Muhammad
Langganan:
Komentar (Atom)

